photo!
Posted on April 6, 2009 by tommy, shrichandrasatryotomo!
Filed Under Photo of The Month | 2,296 views
Terletak di Kampung Kroya, sekitar 500 meter sebelah tenggara Keraton Sorosowan, berada di sisi jalur Jalan Serang – Banten Lama, dimana mengalir Sungai Cibanten pada sisi selatannya.
Sesuai namanya, Kaibon berasal dari kata ka-ibu-an, yaitu tempat tinggal yang diperuntukkan bagi ibunda Sultan. Merupakan bekas kediaman Sultan Muhammad Syafiuddin, seorang Raja Banten ke 21 (1813 – 1820). Setelah Sultan wafat, kedudukannya digantikan oleh putranya yang baru berusia 5 tahun (Sultan Muhammad Rafi’uddin). Agar tetap berjalan, sementara waktu pemerintahan dipegang oleh ibunya yaitu Ratu Aisyah. Keraton ini masih digunakan sampai dengan masa pemerintahan Bupati Banten yang pertama mendapat dukungan Belanda, yaitu Aria Adia Santika, sebagai ganti pemerintahan Kesultanan Banten yang dihapuskan mulai tahun 1816.
Kompleks bangunan ini lebih menampilkan gaya archais (gaya arsitektural awal yang berasal dari seni Celtic, salah satu gaya yang berkembang di Eropa, yaitu di sebelah timur Bavaria, Bohemia, dan Austria. Lebih menekankan motif tarikan garis geometris), dibandingkan dengan Keraton Surosowan. Terbukti dari bentuk pintu-pintu gerbang dan tembok keraton yang berbentuk bentar (bentuk gerbang yang terdiri dari dua bangunan yang saling bersisian, merupakan simbolisasi dari gunung yang terbelah, menandakan wilayah yang tidak suci (profan). Terdapat 4 bentar pada bangunan ini jika diurut dari depan.
Ciri keraton yang bercorak tradisional diperlihatkan pada bentuk pintu gerbangnya. Antara lain pada susunan pintu gerbang dan halamannya. Pintu gerbang pertama yang merupakan jalan masuk berbentuk bentar. Selanjutnya pada halaman kedua, pintu gerbang berbentuk paduraksa (bentuk gerbang yang pada dasarnya terdiri dari dua bangunan yang saling bersisian namun disatukan oleh atap atau struktur yang membentuk atap atau portal), yang lebih bersifat suci/ sakral.
Pada bagian utama Keraton Kaibon terletak masjid. Hal ini yang membedakannya dengan bangunan Keraton di Jawa pada umumnya yang biasanya terletak sitihinggil.
Tahun 1832, Keraton Kaibon ini dihancurkan oleh Belanda, dan hanya menyisakan bagian pondasi, reruntuhan dinding pintu masuk pada sisi kirinya.
Comments
7 Responses to “photo!”
Leave a Reply





Secara garis besar perkembangan Arsitektur di Eropa terjadi dalam 3 (tiga) masa yaitu : Neo-Klasik, Klasik dan Moderen. Archais itu masuk mana?
silahkan menengok ke beberapa rujukan dibawah ini:
http://www.worldtimelines.org.uk/world/americas/north/12000-1000BC/architecture
http://www.arch.cam.ac.uk/roman-architecture/
http://www.historyforkids.org/learn/greeks/architecture/archaic.htm
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/32952/Western-architecture/47289/The-Archaic-period-c-750-500-bc
http://www.arthist.umn.edu/aict/html/ancient/garchaic.html
http://employees.oneonta.edu/farberas/ARTH/ARTH209/Archaic_architecture.html
semoga didapat pencerahan…
sitihinggil itu apa ya?
untuk Bapak Tjahjo Widodo:
silahkan menengok ke beberapa rujukan dibawah ini:
http://www.worldtimelines.org.uk/world/americas/north/12000-1000BC/architecture
http://www.arch.cam.ac.uk/roman-architecture/
http://www.historyforkids.org/learn/greeks/architecture/archaic.htm
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/32952/Western-architecture/47289/The-Archaic-period-c-750-500-bc
http://www.arthist.umn.edu/aict/html/ancient/garchaic.html
http://employees.oneonta.edu/farberas/ARTH/ARTH209/Archaic_architecture.html
semoga didapat pencerahan…
Untuk Lutvi:
Dalam bahasa krama hinggil (bahasa Jawa tinggi tingkatannya), kata “siti” berarti tanah, dan “hinggil” berarti tinggi. Jadi secara harafiah Siti Hinggil artinya adalah tanah tinggi. Tapi maksud sebenarnya adalah lokasi dan posisi yang lebih tinggi dari lingkungan sekitarnya.
semoga bisa membantu menjawab.
foto yg hebat,tp aq blank soal arsitek so… thanks
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kepada Yth.
IAI Banten
Sebelum wacana dibangun kembali Keraton Kaibon, hendaknya adanya pelurusan sejarah dan silsilah dari Kesultanan Banten itu sendiri…(coba perhatikan silsilah Sultan Maulana Hasanuddin sampai ke Sultan ke Ketiga saja dahulu.
- Sedangkan Sultan Muhammad Syafiuddin itu sendiri mempunyai anak pada saat itu berusia 5 Tahun dengan nama Nazaruddin Jum’in yang kawin dengan Puteri dari Kesultanan Pagaruyung yaitu anak Sultan Rumah Panjang (Djamal Djambak) bernama Fatimah dan akhir hayatnya meninggal di Desa Besilam Medan Sumatera Utara ..bukan Muhammad Rafiuddin (diangkat belanda menjadi sultan) dan satu lagi yang tidak tercatat yaitu Abdullah dengan gelar Sultan Zainuddin.
- Coba perhatikan sultan ketiga dari kesultanan Banten dengan seksama.
Demikian semoga menjadi perhatian dan menambah khasanah sejarah bangsa yang benar dan bukan buatan belanda..terima kasih.