UNDANG-UNDANG TENTANG ARSITEK Mengapa diperlukan?

Latar Belakang

 Pembangunan manusia seutuhnya, telah menjadi salah satu tujuan utama bangsa Indonesia untuk memperkuat sektor sumber daya manusia (SDM) sebagai kekuatan utama mencapai keberhasilan dalam membangun dan mengejar ketertinggalan dengan negara-negara lain di dunia. Salah satu kendala yang masih belum maksimal dilakukan oleh bangsa ini adalah memberikan pengakuan peran dan kesempatan kepada berbagai profesi keahlian yang telah tumbuh berkembang di dalam negeri agar memiliki kemampuan daya saing.  Keahlian di bidang jasa konstruksi yang antara lain terdapat profesi Arsitek sebagai salah satu potensi bangsa, diharapkan dapat memberi manfaat dalam melakukan pembangunan infra struktur, bangunan gedung dan lingkungan binaannya,  pemanfaatan fungsi penataan ruang dan pelestarian sumber daya alam, serta perlindungan terhadap budaya Indonesia, untuk meningkatkan harkat dan martabat kehidupan umat manusia yang lebih berkualitas, sesuai dengan cita-cita nasional mencapai masyarakat adil, makmur dan sejahtera.

 

Arsitek merupakan profesi yang sangat spesifik, karena dalam melakukan praktik arsitektur harus mampu menangkap suatu pesan atau keinginan dari pengguna jasanya untuk diwujudkan menjadi suatu karya berupa bangunan gedung beserta lingkungan binaan di sekitarnya yang fungsional dan indah. Menciptakan dari yang tidak ada sebelumnya menjadi ada. Suatu keahlian yang tidak mudah dilakukan oleh semua orang tanpa dasar pendidikan dan pengalaman. Arsitek dalam melakukan profesinya selain harus melayani keinginan pengguna jasanya, juga harus memperhatikan kondisi sekitar tempat pekerjaan arsitektur tersebut akan dibangun; apakah tidak merugikan manusia lain atau lingkungan hidup lainnya termasuk potensi sumber daya alam maupun akar kearifan budaya lokal yang harus dilestarikan. Karena hanya keahlian Arsiteklah yang dianggap mampu melakukan hal tersebut di atas, untuk menjadikan karya-karya arsitektur lebih baik dan memberikan nilai tambah bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Oleh karenanya keahlian di bidang arsitektur senantiasa menjadi ujung tombak suatu proses pembangunan, dan memiliki    peran sangat penting dan menuntut peningkatan agar mampu menghadapi perubahaan strategis dunia yang akan terus terjadi.  

 

            Di Indonesia, peran keahlian di bidang kearsitekturan telah ada sejak zaman pra-sejarah yang ditunjukkan dengan  hasil karya ‘adiluhung’ peninggalan para arsitek tradisional seperti situs candi-candi dan berbagai bangunan tradisional dan kawasan bersejarah. Kemudian menyusul era pembangunan gedung serta penataan kota modern yang dibawa oleh Arsitek di masa kolonial Belanda.  Keberadaan Arsitek dan keinsinyuran Indonesia sendiri baru dikenal sekitar tahun 1950-an, ketika perguruan tinggi Institut Teknologi Bandung (ITB) meluluskan beberapa sarjananya yang pertama, dan diikuti dengan berdirinya  bebrapa organisasi keprofesian yang mengorganisasikan kegiatan profesi Arsitek dan keinsinyuran. Tumbuhnya keahlian ini kemudian diikuti dengan lahirnya sejumlah keahlian terkait lainnya yang lebih bersifat spesialisasi.

 

Kini peran profesi tersebut di Indonesia telah banyak mewarnai pembangunan fisik di negeri ini dan keilmuannya pun berkembang pesat. Tidak sedikit karya ahli Indonesia turut berlaga di manca negara dan  tidak kalah dari karya bangsa lain, sehingga banyak penghargaan telah diperoleh sebagai bentuk pengakuan dunia internasional pada kemampuan putra-putra Indonesia. Kegiatan keahlian ini tidak hanya dinikmati oleh kalangan masyarakat mampu saja, tetapi telah merambah dalam membantu memfasilitasi pembangunan bagi masyarakat kurang mampu di lingkungan daerah kumuh, serta fasilitas perumahan dan permukiman korban bencana alam. Meningkatnya apresiasi masyarakat pada perkembangan keahlian  merupakan hal positif yang kian tumbuh menjadi andalan untuk melakukan pembangunan ekonomi melalui pembangunan sarana dan prasana yang semakin memadai.

 

Belum memadainya peraturan perundang-undangan tentang profesi yang mencakup sampai kepada pelaku pembangunan di bidang Jasa Konstruksi (arsitek dan keinsinyuran) menyebabkan pertumbuhan pembangunan yang pesat masih disertai dengan adanya perilaku kurang terpuji sejumlah oknum dan badan usaha yang memanfaatkan kelemahan peraturan yang ada. Tidak sedikit hasil pembangunan telah merugikan masyarakat, lingkungan dan pengguna jasa, bahkan kadang sampai menghilangkan situs bangunan dan lingkungan bersejarah yang seharusnya dipelihara sebagai cagar budaya. Seiring dengan pesatnya kesempatan membangun, penyimpangan yang dilakukan oleh oknum ahli atau yang mengaku ahli makin tidak terkendali dan berpotensi meluas, yang semua itu tidak bisa hanya diatur oleh peraturan suatu organisasi yang tidak dapat menjangkau pihak-pihak lain.

 

Harus diakui bahwa  peran Arsitek bersama keahlian terkait lainnya telah terbukti memiliki andil dalam memberi hasil pembangunan di berbagai perkotaan dan pelosok daerah menjadi lebih maju, sehingga sudah selayaknya pula profesi Arsitek juga harus bisa lebih tersebar keseluruh daerah dan mendapatkan pengakuan dalam bentuk konstitusi negara sebagaimana peran profesi lainnya seperti dokter, advokat, akuntan, notaris, dosen dan guru, agar bisa menghasilkan karya-karya yang lebih bermanfaat bagi pengguna jasa serta lingkungan binaannya.

 

Untuk membantu mengejar ketertinggalan pembangunan nasional dan penyebarannyayang lebih merata dan lebih terencana dengan hasil yang betul-betul mampu memberikan kenyamanan dan keselamatan bagi umat manusia sesuai dengan karakteristik Indonesia, kita perlu segera memiliki undang-undang keprofesian tentang Arsitek (dan keinsinyuran) sebagaimana yang telah dimiliki oleh semua negara. Sebuah undang-undang yang mengarahkan penyelenggaraan pembangunan bisa dilakukan secara lebih tertib, lebih profesional dan dapat dipertanggungjawabkan oleh semua pelaku pembangunan yang terlibat, termasuk Arsitek dari dalam negeri maupun dari negara lain yang berpraktik arsitektur di Indonesia.

 

 Maksud Dan Tujuan

Sebuah gagasan anak bangsa tentang perlunya Undang-Undang (UU) tentang Arsitek dalam mengiringi pembangunan nasional Indonesia yang berkesinambungan. UU Arsitek sebagaimana juga undang-undang tentang keahlian lainnya hadir sebagai suatu persyaratan melengkapi beberapa peraturan perundang-undangan yang telah ada. Dengan mengetahui latar belakang perlunya pengaturan tentang tenaga ahli pembangunan khususnya Arsitek dan penggunaan jasa Arsitek sebagaimana yang telah dimiliki oleh negara lain, diharapkan semua pihak dapat lebih mudah mencerna manfaat keberadaan undang-undang ini bagi kepentingan pembangunan yang diharapkan menyejahterakan kehidupan masyarakat luas..

 

UU tentang Arsitek secara nasional bertujuan untuk memberikan kepastian hukum kepada Arsitek dalam melakukan praktik arsitektur, dan bagi masyarakat untuk mendapatkan hasil pembangunan yang lebih tertib, lebih baik dan dipertanggungjawabkan  secara profesional serta dalam rangka mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan. UU ini juga untuk meningkatkan kualitas keahlian Arsitek Indonesia agar memiliki kemampuan daya saing menghadapi persaingan global dalam memanfaatkan penataan ruang nusantara, sumber daya alam, lingkungan hidup, serta nilai-nilai kearifan  budaya lokal. Di sisi lain SDM Arsitek dalam berpraktik arsitektur akan lebih tersebar ke seluruh pelosok daerah, sehingga pembangunan nasional yang merata dengan hasil yang baik akan menjadi perekat kebhinekaan di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 APA SIAPA  _ ARSITEK + ARSITEKTUR?

  1. Arsitek adalah seorang ahli yang dinyatakan kompeten di bidang arsitektur.
  2. Arsitektur adalah wujud hasil perencanaan dan perancangan di bidang jasa konstruksi meliputi tata ruang, tata bangunan dan lingkungan, yang memenuhi kaidah fungsi, konstruksi dan estetika mencakup faktor keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan.
  3. Praktik arsitektur adalah rangkaian kegiatan kerja yang dilakukan Arsitek, orang perseorangan maupun badan usaha di dalam bidang arsitektur.
  4. Kompetensi adalah kemampuan Arsitek melaksanakan pekerjaan atas dasar ilmu pengetahuan, ketrampilan dan keahlian serta sikap kerja.
  5. Sertifikat adalah bukti pengakuan keahlian Arsitek setelah memenuhi persyaratan kompetensi untuk menjalankan praktik arsitektur.
  6. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap Arsitek.
  7. Lisensi adalah izin bekerja yang diberikan oleh Pemerintah daerah bagi Arsitek yang melakukan praktik arsitektur di wilayahnya
  8. Dewan Arsitek adalah lembaga yang bersifat independen untuk menyelenggarakan undang-undang ini.
  9. Organisasi adalah Ikatan Arsitek Indonesia yang diakui oleh Negara dan komunitas Arsitek internasional sebagai satu organisasi profesi Arsitek.
  10. Badan Sertifikasi adalah penyelenggara sertifikasi yang dibentuk oleh Dewan Arsitek
  11. Badan Pendidikan adalah pembuat ketentuan pendidikan keprofesian arsitek yang dibentuk oleh Dewan Arsitek.
  12. Pengguna Jasa adalah perorangan, instansi, atau kelompok masyarakat yang menggunakan jasa Arsitek untuk melakukan pekerjaan arsitektur dan diikat dalam suatu hubungan kerja.
  13. Badan usaha adalah usaha praktik arsitektur yang dilakukan secara orang perseorangan maupun badan usaha lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
  14. Menteri adalah Menteri yang membawahi Departemen yang mengatur dan membina jasa konstruksi.
  15. Pemerintah adalah Pemerintah Pusat yang dalam hal ini diwakili Kementerian yang bertanggung jawab di sektor Jasa Konstruksi
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

IAI Banten – Vadhyaswasti Design Forum

2)  Standar LOGO PP Constr & Invest

 

 

 

 

LATAR BELAKANG

Arsitektur merupakan perpaduan antara Seni dan Teknologi, dimana keduanya selalu mengalami perubahan, kemajuan dan pengembangan.

Agar dapat menjamin kompetensi secara terus menerus, para arsitek dan Mahasiswa calon Arsitek diwajibkan melakukan proses belajar seumur hidup  untuk menjaga, memelihara, meningkatkan atau menambah pengetahuan dan keterampilan. Hal ini menjadi sangat penting agar Arsitek Indonesia jangan sampai terbelakang dalam teknologi mutakhir, metoda praktek dan masalah-masalah sosial serta ekologi yang terbaru demi menjaga kepentingan masyarakat umum.

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) ini didukung oleh Program Union International Architect (UIA) sebagai suatu bagian tanggung jawab kepada setiap anggota dan dikaitkan berupa pedoman rekomendasi diantara semua bangsa untuk memberikan fasilitas resiprositas.

Karenanya IAI sebagai anggota dari UIA mewajibkan anggotanya yang berkualifikasi Profesioanal untuk mengikuti Program PKB yang menjadi syarat untuk perpanjangan Registrasi Sertifikat Keahlian.

Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Daerah Banten bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Arsitektur Vadhyaswasti mengajak rekan-rekan mahasiswa untuk berani menerima ide baru dan berlomba untuk menyerap ilmu dari praktisi arsitek yang sudah mahir dibidangnya. Ajakan tersebut dikemas dalam  presentasi proyek yang telah dengan tema berbeda dan menarik setiap bulannya.

Acara ini disebut dengan IAI-Vadhyaswasti Design Forum. Konsep acara ini adalah memberikan diskusi terbuka sesama professional arsitek dan dengan mahasiswa bersama narasumber praktisi yang sudah berpengalaman di bidang dunia arsitektur. Diharapkan dengan adanya acara ini, para professional dan mahasiswa dapat menjadi semakin kreatif dan semakin berkembang siap menghadapi pasar bebas MEA 2015.

 

TUJUAN DAN SASARAN

Mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan dasar arsitek professional dan memberikangambaran dunia prasktis kepada Mahasiswa.

Meningkatkan penguasaan arsitek pada pengetahuan dan ketrampilan baru seiring kemajuan teknologi ilmu pengetahuan.

Meningkatkan tanggung jawab arsitek pada profesinya sebagai penyedia jasa pada masyarakat

Menempatkan arsitek profesional Indonesia dalam tingkat kompetensi yang diakui secara internasional.

 

 

 

WAKTU DAN LOKASI

IAI-Vadhyaswasti Design Forum akan dilaksanakan setiap hari Rabu minggu kedua setiap bulannya. Lokasi acara tersebut rencannya yang akan dipilih adalah di Studio-studio Konsultan yang berada di sekitar Tangerang Selatan atau di proyek2 arsitektur yang sedang progress pembangunan  atau area – area public di Tangerang Selatan

Jadwal IAI-Vadhyaswasti Design Forum

date Topics Presenter
15-Apr-15 Public Facilities design Sandhy Sihotang, ST. M.Arch. Architect at Airmas Asri consultant. Jakarta
13-May-15 Office Tower Design Deni Desvianto, ST. IAIProject Director PDW Consultant. Jakarta
10-Jun-15 Award Winning, Tips And Trick Libradi Dwiputranto, IAIArchitect at Blue Antz Consultant. jakarta
8 -Jul-15 Borderless Architect Syarief. RS. M.ArchPrincipal at WOW Consultant. Singapore
12-Aug-15 Project Manangement Dedi Agus Indra. S. MScEngineer Energy Indonesia
9-Sep-15 Safe Building Code Prof. Manlian Ronald.A.S. ST.MT.IAI Head Program Magister Civil UPH
14-Oct-15 Urban Settlement Fihir .S.A. MSc. IAIPublic Works and Housing
11-Nov-15 Architecture and Cinematography Ujang Sutawijaya, IAI Film Maker/Owner Archinema
16-Dec-15 Critical Theory Architecture Ratu Arum . ST. MSc.IAILecture at Unindra and UI

 

Ketua IAI BANTEN                     : Mukoddas Syuhada, ST. MT. IAI

Koordinator Mahasiswa-

Ka Vadhyaswasti                          : Panji. Hidayatullah.

Sekretaris                                           : Dian Eka Pertiwi, ST

Bendahara                                         : Ir Haryeni Bahar.

Bidang Sistem Informasi

Arsitektur+Publikasi                  : Leonardo, ST

Bidang Keprofesian,                   : Ratu Arum. K. MSc. IAI

Acara                                                   : Libradi Dwiputranto,ST.  IAI

Zakie Muttaqien IAI

 

KONFIRMASI KEHADIRAN  :    LIBRADI D PUTRANTO – 0818 668 595

LEBAK SIBEDUG

oleh : Arum K

Banten seakan memiliki kekayaan alam dan budaya yang tiada habisnya, kekayaan yang masih tersimpan dan belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Salah satu dari kekayaan budaya Banten tersebut adalah Lebak Sibeduk, susunan batu menyerupai stepping pyramid yang di Indonesia lebih dikenal sebagai punden berundak. Kali ini, saya akan berbagi cerita tentang perjalanan ke Lebak Sibedug, yang mungkin tidak akan pernah terjadi bila tidak diundang oleh Tim Arkeologi Nasional yang kebetulan sedang melakukan penelitian dan pendataan situs-situs punden berundak di Banten dan Jawa Barat.

Lebak Sibedug terletak di kampung Cibedug, bagian dari desa Citorek, Kabupaten Lebak, dan termasuk area Taman Nasional Gunung Halimun. Untuk mencapai daerah ini, jalur yang paling nyaman adalah dari arah Rangkasbitung, berkendara selama kurang lebih tiga jam ke arah selatan melalui Cipanas, sebelum akhirnya tiba di desa Citorek. Selanjutnya, perjalanan dapat diteruskan dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih delapan kilometer dengan medan yang menanjak. Saat itu saya menempuhnya dalam waktu empat jam dengan banyak sekali istirahat, gabungan antara lelah dan kagum dengan indahnya saujana. Untuk alternatif lain, bisa juga menggunakan ojek dengan biaya 75.000 sekali jalan (biaya tahun 2013), cocok untuk yang suka uji nyali karena medan yang berbatu dan menanjak curam.

LS_1 (Small)

Menuju Citorek

LS_2 (Small)

Kampung di tengah Taman Nasional Gunung Halimun

LS_3 (Small)

Batas Citorek

Situs ini menjadi bagian tak terpisahkan dari tatanan masyarakat yang menyebut dirinya Kasepuhan Banten Kidul, suku yang masih kalah populer dengan tetangganya yaitu Suku Baduy. Suku yang sudah menganut ajaran Islam, tapi masih lekat mempertahankan kebudayaan Sunda dengan falsafah hidup utama yang mereka sebut sebagai Tri tangtu, atau tiga yang benar.  Kepercayaan yang tercermin pada tatanan masyarakat dan kehidupan keseharian mereka, termasuk juga dalam pola pembagian tugas dan wewenang di tengah pemuka adat mereka. Dengan dipimpin oleh pemuka adat yang disebut sebagai kasepuh dan kakolot, masyarakat Kasepuhan Banten Kidul hingga sekarang masih memanfaatkan situs Lebak Sibedug sebagai ruang sakral mereka, tempat dilakukannya upacara-upacara penting seperti sebelum dimulainya masa menanam padi dan saat mereka panen, termasuk juga masih memberlakukan hari pantang untuk masuk ke kawasan situs yaitu tiap hari selasa dan sabtu.

Berdasarkan hasil penilaian sementara dari tim Arkenas, dikatakan bahwa kemungkinan besar situs ini telah dibangun sejak 500 tahun sebelum masehi atau lebih awal lagi. Pengetahuan saya yang masih sangat terbatas tentang budaya dan arsitektur Sunda, mungkin menjadi sangat lemah untuk dijadikan referensi berdasarkan tulisan ini, tetapi rasa ingin tahu yang kuat yang membuat saya mencoba menelusuri Kampung Cibedug di luar area situs itu sendiri. Dari hasil berjalan keliling kampung yang terletak tepat di sisi barat situs, saya mendapati beberapa informasi yang menarik. Situs dan kampung menempati kawasan yang merupakan gugusan bukit, di mana situs menempati bukit di sisi timur dengan pintu masuk dari sisi barat yang berhadapan langsung dengan bukit dimana perkampungan penduduk dibangun. Sementara di sisi utara, membentang lahan persawahan dengan satu bukit kecil yang digunakan sebagai area pemakaman. Di sisi selatan, kembali dibatasi dengan satu bukit yang menjadi batas antara kampung Cibedug dengan kampung sebelahnya. Di tiap-tiap bukit ini terdapat tegakan batu menhir yang disebut tukuh sebagai penanda. Di bukit yang terletak di barat tempat perkampungan dibangun, tukuh terletak persis di sisi kanan rumah Kasepuh, berupa tegakan batu menhir yang terletak di dalam pagar yang di dalamnya dilengkapi dengan tanaman hanjuang, bangle, dan tanaman lain yang erat kaitannya dengan penolak bala sesuai kepercayaan mereka.

LS_4 (Small)

Kampung Cibedug

LS_5 (Small)

Bukit kecil di utara sebagai tempat peristirahatan terakhir

LS_6 (Small)

Tukuh di samping rumah Kasepuh

LS_7 (Small)

Tukuh di sisi selatan kampung

 

Untuk kawasan situs sendiri, menempati bukit di sisi timur, yang dikelilingi oleh dua anak sungai yang kemudian bertemu di kaki bukit. Tempat pertemuan ke dua anak sungai tersebut, kemudian dijadikan sumur tempat mengambil air suci yang akan digunakan dalam setiap upacara. Untuk mencapai situs, harus menaiki gugusan anak tangga yang akan mengantar ke pelataran pertama, selanjutnya kita masih harus mendaki beberapa anak tangga untuk mencapai pelataran ke dua, pelataran yang cukup luas dengan beberapa gugusan konfigurasi batu yang menandai suatu ruang. Mungkin saja dulu ada tegakan bangunan berdiri di sana, atau mungkin hanya berupa batas yang menandai satu kegiatan tertentu.

LS_8 (Small)

Gugusan batu di pelataran ke dua, bangunan bambu di sisi kanan adalah tempat tegakan empat buah menhir tempat dilakukannya upacara adat.

 

Situs yang terdiri dari beberapa tingkat, adalah bukit yang dibentuk dengan menyusun dan menancapkan bebatuan di punggungnya sehingga terbentuk menjadi bertingkat-tingkat. Batu yang disusun kemungkinan besar berasal dari sungai yang mengitari bukit, ukurannya dan bentuknya beragam, hanya dibagian sisi-sisi tertentu terdapat batu yang sepertinya dibentuk khusus menjadi lurus memanjang. Lereng yang terdapat di sisi kiri dan kanan punden menjelaskan bahwa kemungkinan besar pembangunannya dengan mengangkat atau menggelindingkan batu di lereng landai menyerupai ramp tersebut hingga ke puncak. Teknologi sederhana dengan pengetahuan tepat guna dari masyarakat masa itu.

LS_9 (Small)

Batu yang mengeluarkan suara menyerupai beduk setiap menjelang Ramadhan tiba yang menjadi asal muasal nama kampung Cibedug

LS_10 (Small)

Puncak Punden dari pelataran ke empat

 

Banyak cerita yang belum terungkap dari perjalanan yang hanya dua malam ke situs ini, tetapi keramahan dari para sesepuh kampung dan warga, seakan menjadi undangan untuk kembali lagi ke sini. Mungkin dalam waktu dekat, tim penjelajah IAI Banten yang akan khusus datang dan menggali lebih dalam kekayaan arsitektur dan budaya Banten, khususnya yang berada di Kasepuhan Banten Kidul.

LS_11 (Small)

Pagi Belanja

LS_12 (Small)

Berangkat Sekolah
LS_13 (Small)
Pagi di Cibedug
LS_14 (Small)
Kaki Lumbung

LS_15 (Small)
Pak Jurna, sang kakolot ‘the living historian’
LS_16 (Small)
Cibedug kala senja
LS_17 (Small)
Inspirasi bambu

13 Butir Kompetensi – IAI

Penjelasan ringkas mengenai 13 butir kompetensi yang menjadi pedoman dasar penilaian Sertifikat Keahlian (SKA) Arsitek oleh Dewan Keprofesian Arsitek.

Berikut ini adalah 13 butir kompetensi yang menjadi standar pemenuhan kualifikasi sertifikasi profesional arsitek. Setiap arsitek yang mengajukan sertifikat baru wajib menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar standar-standar ini, sebagai salah satu bukti pendalaman dan keterlibatannya dalam setiap proyek yang diajukan sebagai tolak ukur.

1. Perancangan Arsitektur

Kemampuan menghasilkan rancangan arsitektur yang memenuhi ukuran estetika dan persyaratan teknis, dan yang bertujuan melestarikan lingkungan (Ability to create architectural designs that satisfy both aesthetic and technical requirements, and which aim to be environmentally sustainable)

2. Pengetahuan Arsitektur

Pengetahuan yang memadai tentang sejarah dan teori arsitektur termasuk seni, teknologi dan ilmu-ilmu pengetahuan manusia (Adequate knowledge of the history and theories of architecture and related arts, technologies, and human sciences)

3. Pengetahuan Seni

Pengetahuan tentang seni rupa dan pengaruhnya terhadap kualitas rancangan arsitektur (Knowledge of the fine arts as an influence on the quality of architectural design)

4. Perencanaan dan Perancangan Kota

Pengetahuan yang memadai tentang perancanaan dan perancangan kota serta ketrampilan yang dibutuhkan dalam proses perancanaan itu (Adequate knowledge on urban design, planning, and the skills involved in the planning process)

5. Hubungan antara Manusia, Bangunan dan Lingkungan

Memahami hubungan antara manusia dan bangunan gedung serta antara bangunan gedung dan lingkungannya, juga memahami pentingnya mengaitkan ruang-ruang yang terbentuk di antara manusia, bangunan gedung dan lingkungannya tersebut untuk kebutuhan manusia dan skala manusia (Understanding of the relationship between people and buildings and between buildings and their environments, and of the need to relate spaces between them to human needs and scale.)

6. Pengetahuan Daya Dukung Lingkungan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang cara menghasilkan perancangan yang sesuai daya dukung lingkungan (An adequate knowledge of the means of achieving environmentally sustainable design.)

7. Peran Arsitek di Masyarakat

Memahami aspek keprofesian dalam bidang Arsitektur dan menyadari peran arsitek di masyarakat, khususnya dalam penyusunan kerangka acuan kerja yang memperhitungkan faktor-faktor sosial (Understanding of the profession of architecture and the role of architects in society, in particular in preparing briefs that account for social factors)

8. Persiapan Pekerjaan Perancangan

Memahami metode penelusuran dan penyiapan program rancangan bagi sebuah proyek perancangan (Understanding of the methods of investigation and preparation of the brief for a design project.)

9. Pengertian Masalah Antar-Disiplin

Memahami permasalahan struktur, konstruksi dan rekayasa yang berkaitan dengan perancangan bangunan gedung (Understanding of the structural design, construction, and engineering problems associated with building design.)

10. Pengetahuan Fisik dan Fisika Bangunan

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai permasalahan fisik dan fisika, teknologi dan fungsi bangunan gedung sehingga dapat melengkapinya dengan kondisi internal yang memberi kenyamanan serta perlindungan terhadap iklim setempat (Adequate knowledge of physical problems and technologies and of the function of buildings so as to provide them with internal conditions of comfort and protection against climate.)

11. Penerapan Batasan Anggaran dan Peraturan Bangunan

Menguasai keterampilan yang diperlukan untuk memenuhi persyaratan pihak pengguna bangunan gedung dalam rentang-kendala biaya pembangunan dan peraturan bangunan (Necessary design skills to meet building users requirements within the constraints imposed by cost factors and buildign regulations.)

12. Pengetahuan Industri Kontruksi dalam Perencanaan

Menguasai pengetahuan yang memadai tentang industri, organisasi, peraturan dan tata-cara yang berkaitan dengan proses penerjemahan konsep perancangan menjadi bangunan gedung serta proses mempadukan penataan denah-denahnya menjadi sebuah perencanaan yang menyeluruh (Adequate knowledge of the industries, organizations, regulations, and procedures involved in translating design concepts into buildings and integrating plans into overall planning.)

13. Pengetahuan Manajemen Proyek

Menguasai pengetahuan yang memadai mengenai pendanaan proyek, manajemen proyek dan pengendalian biaya pembangunan (Adequate knowledge of project financing, project management and cost control.)