Menilik Tanda Tangan Budi Sukada
Posted on June 21, 2007 by N. A. Hilal
Filed Under Budaya | 2,172 views
Sepertinya tanda tangan berhias sekelopak bunga adalah satu-satunya yang ada di dunia ini, dan itu adalah milik Budi Sukada, Ketua IAI Periode 2005-2008. Entah apa yang ada di benak seorang Budi kala itu sehingga dia dengan isengnya atau bahkan dengan seriusnya menambahkan 8 kelopak bunga di ujung garis yang ditorehkan di setiap akhir tanda tangannya (kalau bukan di setiap memulai menandatangani). Mungkin ini adalah pertanyaan iseng tapi selalu menggelitik saya disetiap melihat tanda tangan tersebut.
Pada suatu hari saya menambahkan hal serupa pada tanda-tangan saya dan seketika itu kawan saya berkomentar “ih centil banget”, ow.. apakah seorang Budi Sukada dinilai kawan-kawannya adalah orang yang centil? mungkin. Namun tentunya komentar itu adalah komentar orang awam (paling tidak dimata si empunya tanda-tangan).
Saya tidak akan mereka-reka apa makna kelopak bunga tersebut, karena mungkin si Budi tidak bermaksud apa-apa dengan bunga tersebut. Yang jelas bagi saya hal tersebut adalah sebuah “Counter Culture” atau bahkan penghancur logika formal. mengapa demikian? Ok sekarang kita mulai dari “apa itu sebenarnya tanda tangan atau “signature”?”. Nah saya tidak akan mencari referensi kemana pun karena saya malas, untuk apa dicari sekarang sedangkan saya sudah melakukannya bertahun-tahun (tolol sekali).
Saya tidak ingat kapan pertamakali diminta/disuruh membubuhi tanda tangan, saya lihat ijazah TK saya tidak ada tanda tangan melainkan cap 3 jari, di nem SD saya juga belum ada tanda tangan saya melainkan cap 3 jari, tapi di ijazah SD seperti ada torehan garis tidak jelas diatas cap 3 jari (mungkin itu tanda-tangan formal pertama yang saya buat, namun belum pasti). Diatas ijazah SMP juga terlihat torehan garis tidak jelas diatas foto dan cap 3 jari saya mungkin itu tanda tangan tapi saya tidak ingat melakukannya. Oh di atas ijazah SMA jelas sekali ada tanda tangan saya dan saya ingat sekali memilih bentuk huruf dan torehan garisnya. OK anggap saja kita mulai sadar membubuhi tanda tangan sejak SMA. Nah sekarang yang menjadi pertanyaan, mengapa saya menarik garis seperti tanda-tangan saya itu, seingat saya saya cuman menarik-narik huruf dan garis biar tidak keliatan seperti menulis tangan biasa dan asal berbeda dengan orang lain, tapi mengapa saya bisa mengambil keputusan atau memilih bentuk yang seperti itu, tentu ada benturan-benturan pengalaman yang memaksa saya atau mengarahkan saya melakukan hal seperti itu. Dan mungkin itu yang dialami oleh hampir semua orang, termasuk seorang Budi Sukada.
Namun, disaat-saat hampir 100% bentuk tanda tangan manusia berupa tarikan-tarikan huruf yang sengaja ditarik-tarik kesana-kemari biar kelihatan tidak jelas atau biar tidak seperti menulis tangan biasa, tidak begitu halnya dengan Budi Sukada, dia dengan detailnya menambah 8 kelopak bungan di setiap ujung garis tanda-tangannya, ini adalah sebuah bantahan terhadap budaya mayoritas.
Comments
6 Responses to “Menilik Tanda Tangan Budi Sukada”
Leave a Reply

ini sapa penulisnya? kok ga ditulis?
kasihan betul pak budi, tanda tangannya pake bunga, ???? mang kenapa?
Kalau mau tahu bagaimana pak Budi lihat saja pak Zakie sehari-hari.
sebenernya pak zaki tanda tangannya mau ditambahin landscapenya sekalian (gak cuman bunga) mungkin setelah terlihat menutupi isi halaman akhirnya dibatalkan….
apakabar wan ketua??
Angka 8 sebenarnya dapat ditafsirkan sebagai Perubahan. Nilai binernya 1000, jadi kalau dijumlahkan jadinya 1008. Nah barangkali Pak Budi punya arti khusus tentang arti 1008 dikaitkan dengan sejarah Banten.
Tafsiran selanjutnya 8 juga bentuk segi 8 yang erat kaitannya dengan tradisi hexagram China.
1000 dapat dituliskan sebagai 130 . Ini bentuk tulisan terkompresi. Mirip di-Zip lah kalau di zaman komputer modern. Kalau dijumlahkan 8+130=138, 1000+138=1138.
Nah kalau kita penggal 1138 dengan cara potong di dijit 3 diperoleh 113+8=121. Dalam bahasa Arab 121 adalah nilai huruf dari AL-Malik. Itu tafsiran simbologikanya. Kalau dijumlahkan 121+3 (dijit balance) maka diperoleh 124. Bilangan ini tidak lain adalah Proporsi Golden Ratio untuk lingkaran konsentrik. Berhubungan Pak Budi itu Arsitek mungkin maksudnya erat kaitannya dengan ide Geometri Suci atau Sacred Geometry yang sangat dikenal di dunia arsitektur.
Nah itu kira2 tafsiran saya hehehe….
quote : “Saya tidak akan mereka-reka apa makna kelopak bunga tersebut, karena mungkin SI Budi tidak bermaksud apa-apa dengan bunga tersebut”
heu,, seharusnya jangan pake “SI” yah.. kesannya tidak sopan…
tapi mungkin tulisan ini dibuat oleh sahabat karibnya Pak Budi kali ya,,,